Selasa, 18 Juni 2019

Memesan Semua Kamar di Kampung Tembi Guest House

Pertengahan Januari 2018 ada kerabat yang menikah dengan menggelar resepsi di Rumah Budaya Tembi, Kabupaten Bantul DI Yogyakarta. Karena semua keluarga besar tinggal di luar kota, otomatis harus menginap supaya waktu resepsi muka kelihatan segar 😁. Entah bagaimana ceritanya kerabat jauh ini memilih tempat menginap di Kampung Tembi Guest House. Tempat ini cukup populer di mesin pencarian dan hampir semua situs layanan inap. Namun, mereka tidak memesan lewat situs dan aplikasi, melainkan langsung menelepon penjaga. Tempat ini direkomendasikan oleh teman kantor salah satu kerabat.
Selamat datang di Desa Wisata Tembi.
Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, tidak berdasarkan pesanan maupun berbayar.
Beberapa tahun lalu aku pernah ikut acara Blogger Nusantara yang pertama dan terakhir diadakan di Yogyakarta 😀. Selama 2 hari penyelenggaraan, tempat menginap peserta di losmen-losmen Jalan Prawirotaman dan desa wisata Tembi. Ketika itu aku memilih pulang ke rumah dan tidak menginap. Masih ada sedikit memori tertinggal di desa ini, jadi tidak begitu asing saat melewati jalan yang kami lalui menuju penginapan.

Karena diojok-ojoki kerabat, aku ikut menginap bersama mereka. Rela naik ojek online tengah malam menuju Terminal Giwangan, karena mobil kerabat tidak melewati tempat tinggalku 😔. Rombongan memang baru sampai Yogyakarta tengah malam, saat jalanan sudah mulai lengang. Aku sih ngikut aja, meskipun sebenarnya rugi karena penginapan tidak memberi diskon, padahal baru masuk tengah malam 😀.
Bagian belakang rumah (Manto).
Wow semua kamar di Kampung Tembi dipesan keluarga besar! Aku sampai geleng-geleng kepala, itu habis berapa jutaaa. Jadi begini, guest house ini sepertinya memiliki 2 rumah. 1 rumah besar yang dibagi bagian depan dan belakang, rumah lainnya berisi hanya 1 kamar. Gambar di atas adalah bagian belakang rumah besar yang dinamakan Manto. Seingatku, ada 4 nama ruangan di guest house ini.
  • Mardjan
  • Yusro
  • Ponijo
  • Manto.
Mardjan dan Yusro menghadap jalan masuk mobil, masing-masih berisi 1 tempat tidur dan toilet. Ponijo adalah rumah yang kutempati, letter L dengan rumah Mardjan dan Yusro. Ponijo memiliki 2 tempat tidur dengan 1 toilet. Pintunya terbuat dari kayu jati di tengah rumah, diapit oleh 2 daun jendela yang bisa dibuka keluar.
Salah satu kamar.
Bagian belakang Mardjan dan Yusro, dinamakan Manto, yang sebenarnya rumah ini hanya disekat oleh papan jati (seingatku). Manto lebih luas dengan adanya ruang tengah dengan 1 tempat tidur dan 2 (lupa) kamar. Pastinya, ada toilet di tiap kamar. Selain itu dilengkapi dapur, lengkap dengan kompor dan air minum dispenser.
Teras belakang Manto.
Enaknya lagi, ada ruang tambahan yang menyambung dengan Manto, seperti tempat untuk bersantai dan tiduran. Lihat gambar di atas saja supaya lebih jelas 😄. Aku bener-bener tidak tahu deh hitungannya gimana, tinggal nempati saja sih wkwkkw.

Fasilitas di sini ada internet gratis, AC tiap ruangan, televisi, air panas untuk mandi (gas water heater), dan handuk. Ketika sampai di sini pukul 00.30 WIB, kami minta welcome drink berupa teh panas, dan mereka mau menyediakan hehehe.
Kakus toilet duduk.
Minusnya tempat ini kurang begitu terawat dengan adanya debu di beberapa tempat. Kayaknya ini seperti sebuah "kebiasaan" guest house maupun homestay, karena aku juga menemui hal yang sama ketika menginap di satu guest  house di Kabupaten Sleman. Gas water heater juga habis ketika mau digunakan, padahal malam itu turun hujan dan suhu duingin banget, apalagi tempatnya dikelilingi sawah. Setelah menghubungi penjaga, tabung gas diganti dengan yang masih berisi.
Handuk.
Yang lumayan menyenangkan adalah kami bisa checkout sesuka hati jika setelah itu tidak ada yang memesan. Tapi kami tahu diri kok, keluar dari guest house sekitar pukul 14.00 WIB, menuju destinasi selanjutnya #halah.
Foto di sini lho..
Menginap di (sebagian) guest house dan homestay lebih mahal daripada hotel. Apalagi tidak ada standarisasi sehingga terkadang pelayanannya kurang sesuai ekspektasi. Tapi, jika ingin menikmati suasana hening jauh dari bisingnya perkotaan, guest house bisa menjadi pilihan.

Sabtu, 08 Juni 2019

Kembali Makan Ayam Goreng Bu Tini Sultan Agung Jogja

Aku agak kesulitan saat mengantar tamu makan di Jogja, apalagi si tamu punya selera tinggi terhadap masakan Jawa, ndridis, dan kolot 😀. Diarahkan ke rumah makan yang belum pernah mereka coba, mereka tidak mau spekulasi. Mereka malah terlihat tidak menerima sesuatu yang baru dan terlanjur menikmati zona nyaman.

Daripada ribet, aku menawarkan makan di Rumah Makan Ayam Goreng Bu Tini di Jalan Sultan Agung 17 Yogyakarta. Tanpa pikir panjang mereka mau kesana 😂, padahal saat liburan biasanya penuh sesak, terkadang stok ayam goreng telah habis. Selain di Jalan Sultan Agung, ayam goreng legendaris ini membuka cabang di selatan kota Jogja.
Buku panduan.
Kami tidak memesan ingkung, karena tidak semua rombongan menyukai semua tubuh ayam 😁. Menu yang dipesan adalah setengah ayam goreng plus kepala, malah porsi kepalanya lebih dari 2. Semua pesanan sudah termasuk lalapan berupa ketimun, selada, tomat, dan kubis. Sehingga tidak perlu memesan lagi kecuali dirasa kurang.
Menu makanan.
Penjual menjamin ayam yang digoreng adalah halal, meskipun waktu aku ke sana tidak terlihat label sertifikat halal LPPOM MUI DIY di daftar menu. Ayamnya jelas ayam kampung, bukan ayam jago dan broiler (pedaging). Untuk minumnya, aku pesan tape panas 😊 karena harganya sama dengan es teh dan lemon tea panas, wkwkwk.
Mau pesan minum apa?
Kebetulan waktu kesana 2018 lalu, baru saja ditinggal rombongan besar kementerian, sehingga banyak kursi lowong. Lumayan lah, dapat tempat duduk di tempat strategis (sirkulasi lancar dan terkena kipas angin 😋), tapi setelah kami memesan makanan tak lama berselang beberapa rombongan keluarga datang untuk makan siang. Sepertinya rumah makan ini tak pernah sepi pembeli.
Tempat duduk idaman.
Andaikan tidak dapat tempat duduk utama, masih ada tempat yang kurang strategis (pemandangan, sirkulasi, jauh dari toilet) dan lesehan. Sebagai rumah makan jujugan keluarga dan tamu instansi, fasilitasnya pun cukup lengkap dengan adanya wastafel dan tempat shalat. Yang belum ada mungkin hanya pendingin ruangan.
Lesehan juga bisa.
Setelah menghabiskan separuh gelas minuman, hidangan pun datang dan siap disantap. Serbuuuuuu. Seingatku, nasi tidak disajikan dalam cething tapi sudah ditakar di atas piring. Etapi sambalnya tidak ikut terfoto, maaf 😀. Sambal ayam goreng Bu Tini adalah sambal tomat khas berwarna merah tua dengan rasa manis pedas.
Ayam goreng yang ditunggu datang juga.
Selain menu di atas, juga tersedia menu paket nasi box. Pembeli tidak perlu bingung memilih menu seperti menu makan di tempat, meskipun harganya lebih mahal beberapa ribu rupiah, hehehe.
Paket nasi box.
Makan selesai, kami membayarnya dengan uang tunai. Di sebelah kasir juga tersedia aneka macam jajanan pasar. Bagiku sudah tidak perlu jajan lagi, karena sudah kenyang makan ayam 😂.
Meja pesan dan kasir.
Aku merasa ayamnya khas dan tetap enak, tapi tamuku berseberangan pendapat denganku 😄. Yo wislah, yang penting tamu tidak banyak komplain dan kenyang. Ayam goreng Bu Tini tidak dipresto, jangan sekali-lagi makan tulangnya karena tetap keras seperti tulang 😁.

Kamis, 06 Juni 2019

Pesanan Terlambat 30 Menit dari Kesepakatan di Aldan Jakal km7

Semakin mendekati hari raya Idulfitri, warung makan pun semakin sulit dicari. Banyak yang mulai tutup H-7, dimana puncaknya akan terjadi tutup warung massal pada H-2 Idulfitri. Hanya sedikit warung makan yang konsisten buka nonstop hingga H+5 Idulfitri, warung-warung ini baru meliburkan diri setelah warung lain sudah mulai buka kembali.
Menunggu buka puasa di Aldan.
Beberapa hari lalu (sebelum Idulfitri) ba'da Dzuhur aku akan memesan makan untuk buka puasa. Sasaran utama sih Sambel Layah, setelah menyusuri jalanan kok tidak ketemu warungnya. Cari beberapa alternatif lain akhirnya hanya menemukan Lesehan Aldan di Jalan Kaliurang km 7 Sleman, DI Yogyakarta. Aku memesan 20 porsi paket lele bakar, karena secara psikologis makan ayam tiap hari menyebabkan muntah 😀. Kesepakatannya, pukul 17.00 WIB akan kuambil.
Tulisan tanpa kontak.
Perlu diketahui, Maghrib di DI Yogyakarta (selain Gunungkidul dan Kulon Progo) saat itu pukul 17.30 WIB. Ohiya, pulang dari pesan makanan kulihat peta Google, ternyata Sambel Layah Jalan Kaliurang sudah tutup permanen. Kemana saja aku sampai tidak tahu warungnya sudah tutup.
Kena upeti 10%.
Kurang dari pukul 17.00 WIB, aku sampai di Aldan Jakal km 7 ini dan pesanan belum jadi. Aku masih tenang, mungkin sebentar lagi selesai. Perasaanku mulai tidak enak ketika waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB. Memang sih, untuk menu bakar membutuhkan waktu saji lebih lama daripada menu goren. Tapi kok ini... 😟

Pengemudi yang menyertaiku sudah tidak sabar dan mulai ngomel-ngomel, aku hanya bisa berucap padanya "Sabar, kita lagi puasa." Tahu nggak, pesanan diselesaikan jam berapa? Pukul 17.32 WIB pesanan baru diserahkan padaku 😠. Sudah lewat dari kesepakatan, tidak minta maaf, tidak ada kompensasi, dan sekedar air putih pembatal puasa. Pengunjung yang makan di tempat juga setengah emosi karena tidak ada apa-apa sebagai pembatal puasa.
Jam berapa itu?
Ngelus dada sendiri, demikian keterlaluannya Aldan. Bahkan untuk air putih pembatal puasa pun tidak ada, sungguh kikir medit pelit.

Alhasil, buka puasa untuk rekan-rekan pun telat sampai. Aku merasa bersalah karena sepertinya mereka menunggu menu nasi buka puasa, tapi baru sampai setelah adzan Maghrib selesai berkumandang 😕.

Warung Lesehan Aldan Jalan Kaliurang km 7 masuk daftar hitam, tidak layak untuk menerima pesanan hingga layanannya dibenahi.

Senin, 27 Mei 2019

Ramadan Iftar Gathering Cakra Kusuma Hotel Yogyakarta

Cakra Kusuma Hotel, hotel bintang 3 yang berada di Jalan Kaliurang km 5,2 no 25 Yogyakarta beberapa waktu lalu mengundang rekanan dan media menghadiri Ramadan Iftar Gathering 2019. Acara santai ini diadakan di tepi Alamanda swimming pool pada sore hari Jum'at 24 Mei 2019, sambil menikmati suasana sore yang cerah.
Gathering di tepi kolam.
Sambutan tuan rumah sangat hangat, bahkan aku tidak tahu yang menyambutku adalah General Manager Cakra Kusuma Hotel, Dwi Agus Kristanto. Pemilik Cakra Kusuma Hotel juga berkenan hadir dalam acara buka puasa ini.
Sambutan general manager.
Ramadan iftar Gathering ini sebagai ucapan terima kasih dan menjalin silaturahmi dengan para rekanan dan media, dengan harapan kerjasama yang telah terjalin tambah meningkat.
Mengambil jajanan pasar.
Selama bulan Ramadan, Cakra Kusuma Hotel memiliki 2 program unggulan, yaitu Berkat Cak Kus (Berbuka Hemat di Cakra Kusuma) dengan harga Rp50.000++ per orang. Ada 453 jenis menu makanan di Cakra Kusuma Hotel yang telah mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI DIY.

Program lain yaitu Ramadan Rate kamar hotel mulai Rp350.000 per kamar all type dengan fasilitas sahur gratis. Kedua program berlaku hingga 5 Juni 2019. Perlu diketahui ada 5 tipe kamar di hotel ini yaitu Family suite, Standart room, Superior room, dan Suite Room.
Sea food mania.
Acara berlangsung meriah dengan diselingi pembagian door prize kepada hadirin yang hadir, siapa yang berhasil menjawab pertanyaan dari pembawa acara, dialah pemenangnya. Voucher yang dibagikan adalah voucher berenang Alamanda swimming pool, tempat rekreasi di Sleman, t-shirt bagi yang telah upload kemeriahan acara di Instagram, sampai voucher menginap.
Buka puasa meriah.
Acara berlangsung hingga sekitar pukul 19.00 WIB, aku dan rekan lain pamit pukul 18.30 WIB untuk mengejar shalat Isya' dan tarawih di masjid favorit masing-masing. Secara keseluruhan menu makanan di sini oke, apalagi jajanan pasarnya cocok banget dengan seleraku.

Kamis, 02 Mei 2019

Menu Ngudi Rejeki Pogung lebih Lengkap daripada Cabang Lain

Seorang teman mengajak makan sore (makan siang yang terlambat). Aku nggak begitu tertarik sih, mending pulang saja. Tapi teman ini agak memaksa, aku pun menurutinya. Warung yang dituju berada di Pogung Kidul, berseberangan dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menu yang dipesan hanyalah lele bakar 😀. Menurutnya, warung ini terhitung murah dibandingkan yang lain. Aku hanya manggut-manggut saja, untuk pemuja karbo (kala itu) bisa jadi referensi. Warung itu adalah Ngudi Rejeki, beberapa bulan kemudian aku melenggang ke sana mencicipi menu lain.
Nasi bakar.
Menu yang pernah kucoba adalah nasi bakar. Ada yang belum tahu nasi bakar? Nasi bakar adalah nasi matang yang dibungkus dengan daun pisang, dimana disela-sela banyaknya nasi terdapat "sesuatu". Nasi bungkus tersebut dibakar di atas apa, sebagian ada yang membakar nasi bungkus seperti membakar sate.

Pesanan datang dalam keadaan masih panas. Setelah bungkus daun pisang dibuka terciumlah semerbak harum kemangi. Nasi langsung diobrak-abrik agar panas mereda. Terkuaklah di dalamnya ada apa saja, misteri "sesuatu" pun terpecahkan wkwkkk 😁.
Nasi bakar balur kelapa isi daging.
Nasi bakar dibalur parutan kelapa dan bawang merah goreng. Setelah dibelah terlihatlah kemangi dan daging ayam. Inilah "sesuatu" disela nasi bakar, "sesuatu" bisa apa saja tergantung selera, ada ikan asin, teri, irisan telur, dan beberapa lauk lain.

Selain nasi bakar yang pernah kupesan di warung ini adalah nasi pecel. Pecel Ngudi Rejeki adalah pecel Jogja yang rasanya manis, bumbu kacangnya pun lebih lodrek dan berwarna coklat muda.
Nasi pecel tempe.
Yang unik adalah penyajiannya diberi bonus seiris tempe goreng. Sayuran pecel lumayan lengkap yaitu kacang panjang, kecambah, bayam, dan wortel. Aku merasa kadang sayurannya dimasak terlalu matang sehingga warnanya kurang menarik lagi.

Untuk nasi bakar Ngudi Rejeki Pogung, cukup sekali aku mencobanya 😀. Pernah satu ketika beli nasi pecel tidak makan di tempat. Setelah dibuka ternyata tidak ada tempe goreng di dalamnya 😂. Rupanya bonus tempe hanya diberikan saat makan di tempat.

Menu pecel dan nasi bakar setahuku hanya ada di Ngudi Rejeki Pogung. Pernah singgah di Ngudi Rejeki Jalan Kaliurang dan Condong Catur, di sana tidak ada menu tersebut.

Menu tersebut kubeli pada tahun 2016, mungkin harga dan ketersediaan menu sudah berubah saat ini 😊.

Kamis, 25 April 2019

Cari kost di Medan? Ini 5 Rekomendasi Kost Murah yang Pas buat Kamu

Belum pernah merasakan jadi anak kost? Saatnya kamu mencoba mengganti status dari pelajar menjadi mahasiswa dan kamu akan merasakan hal tersebut. Mencari kost bisa dibilang gampang-gampang susah. Mengapa demikian? Banyak pilihan kost yang ingin kamu tempati, namun terkadang budget tidak sesuai atau terkadang kamu kurang nyaman dengan lingkungannya.

Hal inilah yang perlu kamu perhatikan saat mencari kost. Jangan asal dapat, tapi kamu tidak tahu nanti akan betah atau tidak. Mencari kost tiap orang tentu masing-masing, tergantung tipikal pribadi tiap individu. Apalagi untuk kamu yang tipe pemilih, butuh beberapa pilihan dan riset kost tersebut mulai dari keamanan hingga lingkungannya.

Misal saja contoh kamu berasal dari Jawa yang akan merantau di kota Medan, pasti lingkungan yang akan kamu dapatkan pun juga berbeda. Dari yang terbiasa menggunakan bahasa jawa, saat kamu di Medan akan menemui gaya bahasa batak yang sangat berbeda dengan asalmu. Saat itulah kamu harus belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kemudian kamu pun juga harus memilih kost yang cocok untuk kamu tempati.

Jarak dan waktu memang menjadi pertimbangan untuk kamu bolak balik dari Jawa untuk survey kost. Nampaknya berat diongkos jika kamu harus kesana hanya untuk keliling mencari kost. Sedangkan kamu harus segera butuh kost yang akan kamu tempati. Tak mungkin juga kamu mencarinya saat itu juga, tentu yang dipikirkan kamu akan tenang saat datang di kota Medan dan sudah mendapatkan kost.

Kamu tak perlu khawatir akan hal itu, cobalah untuk kamu download aplikasi mamikos. Mengapa harus mamikos? Mamikos sebagai aplikasi dan website yang menyajikan informasi pencarian kost secara lengkap. Data yang tertampil di mamikos sudah terverifikasi, sehingga sebelum tertampil data yang masuk diseleksi terlebih dahulu. Kamu bisa melihat informasi ketersediaan kamar kost dan harga kost akan selalu terupdate.

Berbagai fitur pencarian kost bisa kamu dapatkan di mamikos. Di antaranya mencari kost berdasarkan pencarian terdekat, daerah yang dituju, fitur berlangganan, fitur favorut hingga fitur history. Mamikos dikemas secara mudah dan menarik sehingga user bisa dengan gampang mengakses pencarian kost.

Melalui mamikos, kamu bisa mencari referensi kost di sekitar Medan. Berikut beberapa referensi kost Medan:

Kost Indomart Medan Petisah Medan
Kost Indomart dengan harga 500 ribu per bulan bisa kamu dapatkan di mamikos. Dengan luas kamar 2,5 x 2 meter , ideal untuk kamu tempati sendiri. Fasilitas kamar yang kamu dapatkan berupa kamar, almari pakaian, dan juga kipas angin.

Kemudian kost ini dekat dengan warung makan, ATM, apotek, kampus serta pos ojek. Strategis tentunya, segera booking sebelum kehabisan.

Kost Raisa Medan Petisah
Kost Raisa memiliki harga sewa 600 ribu per bulan. Untuk kost ini bisa digunakan putri, pasangan suami istri, atau kamu bisa kost bersama dengan teman sehingga biaya kost akan lebih murah jika ditempati berdua.

Dengan fasilitas yang diberikan berupa kasur, dapur umum, ruang jemur, serta kamar mandi luar.

Kost Quality Medan Petisah
Kost Quality memiliki harga 600 ribu untuk sewa per bulannya. Harga tersebut sudah termasuk dengan biaya listrik.

Kamu akan mendapatkan beberapa fasilitas kamar di antaranya kasur, kipas angin serta bisa disewa untuk pasangan suami istri. Untuk luas kamarpun cukup besar yaitu 4x3 meter dengan kamar mandi luar.

Kost Sambu Medan Timur
Ingin kost sekamar berdua dengan teman agar murah? Kamu bisa kost di sini dengan harga 800 ribu. Bisa digunakan untuk sekamar berdua dengan luas kamar 4x4 meter.

Fasilitas yang kamu dapatkan berupa kasur, TV, AC serta kamar mandi luar. Untuk akses lingkungan pun dekat dengan warung makan, ATM, apotek dan juga kampus atau sekolah.

Kost Rahmat Medan Petisah
Dengan ahrga 800 ribu per bulannya kamu bisa menikmati kelengkapan fasilitas yang ada di Kost Rahmat.

Di antaranya kasur, almari baju, meja dan kursi belajar, serta bisa digunakan sekamar berdua. Untuk fasilitas lain seperti kamar mandi dalam bisa kamu dapatkan.

Sabtu, 20 April 2019

Menyantap Sarapan ditemani Sejuknya Pagi di Joglo Pari Sewu

Nama Joglo Pari Sewu baru kudengar pekan lalu, setelah teman-teman Blogger Jogja membicarakannya. Rupanya tempat ini adalah restoran di tepi Kali (sungai) Kuning yang terletak di daerah Bromonilan, Purwomartani Kalasan, Kabupaten Sleman DI Yogyakarta. Aku jadi penasaran setelah tahu berada di tepi sungai, karena itulah aku bela-belain ke Joglo Pari Sewu hari Selasa, 9 April 2019 lalu.
Restoran Joglo Pari Sewu.
Lokasinya masuk dalam Desa Wisata Bromonilan, sekitar 16 kilometer dari Kilometer Nol Yogyakarta. Memang cukup jauh, namanya juga desa. Kalau di kota adanya Kampung Wisata. Cukup buka peta Google, Restoran Joglo Pari Sewu akan ditemukan di sana. Sebagai pengendara yang taat peraturan, sepanjang jalan menuju lokasi aku tidak membuka peta Google, akibatnya menempuh jalan lebih jauh dari petunjuk Google 😂.
Klik untuk memperbesar gambar.
Selain terletak di tepi sungai, apa yang menarik dari restoran ini? Lihat spanduk yang membentang di parkiran; All u can eat* hanya dengan Rp25.000 akhir pekan dan Rp20.000 di hari biasa, tanpa tambahan biaya apapun (di beberapa brosur biasa ditulis ++). Siapa yang nggak tertarik coba? Kalau programnya sudah tidak ada, spanduk (harusnya) tidak lagi nangkring di situ.
Spanduk wisata pagi all you can eat.
Dari sekian banyak spot wisata di desa wisata ini, aku hanya sempat melihat sebagian saja. Lebih suka duduk menikmati keadaan sekitar dalam beberapa saat, baru pindah ke tempat lain setelah rasa terpuaskan 😀.
Kemana saja boleh.
Memasuki joglo restoran pukul 09.00 WIB, eh ternyata sarapan saat itu ditempatkan di bawah (tepi sungai). Akupun menuruni tangga menuju ledok, sudah ada beberapa orang disana menunggu sarapan. Terlihat dari anak tangga, ada 2 meja dan tikar untuk lesehan. Termasuk juga ada 2 toilet dengan konsep alam (maksudnya berlantai bebatuan gitu).
Di bawah pohon Bambu kala itu.
Sambil menunggu teman lain datang, kuluangkan waktu jalan berkeliling. Tempat tersebut rupanya bernama Taman Bambu, yang berdampingan dengan kolam terapi ikan, tempat main air, dan rumah pudding. Fotonya dirangkum menjadi slide di bawah ini.
Setelah teman-teman sudah kumpul dan sajian siap, kami langsung mengerubungi pramusaji 😀. Apa aja sih kuliner yang disajikan Joglo Pari Sewu? Ada 2 amben sebagai tempat menggelar kuliner, amben jualan yang sudah jarang ditemukan di kota. Aku jadi ingat masa kecil, para penjual bubur dan terik menggunakannya untuk menggelar jajanan. Gambar amben jualan ada di slide kok.

1 amben untuk jajanan dan minuman. Amben lain untuk makanan berat. Di antara keduanya dipisahkan oleh wajan penggorengan di atas kompor untuk menggoreng aneka jajanan seperti balok, pisang, tempe, dan bakwan jagung. Bakwan jagungnya juara lho..
Contoh voucher jajanan.
Lho kok ada voucher jajanan, gunanya buat apa? Kayaknya begini, program all u can eat berakhir saat aku datang kemarin, gantinya adalah program tukar uang dengan kupon. Kuponnya bisa digunakan untuk beli jajanan. Lebih jelasnya lihat Instagram @jogloparisewu.

Sebelum sarapan yang kedua (dari rumah sudah sarapan 😂), pemanasan dulu dong alias ngemil 😁. Aku ke amben jajanan dan memesan jamu beras kencur, padahal aku tahu jamu ini mengenyangkan (iyalah... kan dibuat dari tepung beras). Jamu sudah dibuat dan dimasukkan ke dalam botol, pramusaji tinggal mengocok lalu menuangkannya ke dalam gelas. Selain beras kencur ada kunir asem, teh, wedang uwuh, dan air putih.
Monggo dipun dahar.

Selanjutnya makan jenang gempol karena bubur kacang ijo hampir tiap hari makan 😀. Aku harus merelakan tidak makan bubur telo ungu agar perut tidak serta merta penuh 😆. Jajanan pasar yang tersedia adalah gatot, lupis. dan tiwul lengkap dengan juruh dan kelapa parut. Belum lagi apem, resoles, lemper. Duh... nyebut apa lagi saking banyaknya pilihan 😋.

Aku menuruni tanah untuk lebih dekat dengan sungai, sambil ngemil gorengan 😌. Kemudian duduk di tepi kolam terapi ikan. Untuk melakukan terapi ini, harus membeli tiket karena tidak termasuk dalam paket sarapan. Aku dan teman-teman hanya duduk tanpa berani memasukkan kaki ke kolam, ikannya terlihat ganas hahahha.
Mandi di sungai.
Pakaian renang sudah kubawa dari rumah, tapi melihat tempatnya aku jadi sedikit keder 😂. Kalau sendirian berenang di tempat ini ogah ah hahahah, padahal kelihatannya asyik ya, berenang. Selain renang, tempat ini juga biasa digunakan untuk bebek-bebekan (floating boat) yang dikenakan biaya terpisah.
Mau renang? Baca ini dulu.
Tibalah waktunya untuk sarapan kedua. Pilihan menu yang tersedia benar-benar bikin pusing kepala, banyak banget! Aku bersyukur saat itu tidak tergoda untuk icip-icip semua menu 😁. Menu yang kupilih pun kuungkapkan dengan percaya diri, pecel! Padahal waktu itu ada nasi goreng, sayur lodeh, gudeg, krecek, dan oseng terong. Lauknya ada telur ayam pindang, telur ceplok pedes, mi goreng, oseng teri, sate telur puyuh, dan usus. Oh iya, ada jengkol juga!
Nasi pecel.
Sayuran pecel cukup lengkap disajikan di atas piring seng. Ini pecel ala Jogja, bukan Jawa Timuran yang penyajiannya diikuti oleh rempeyek. Mungkin pilihan lauknya yang salah hahahaha, maklum lagi kepengen sate telur puyuh 😃.

Selain paket sarapan, pengunjung juga bisa memesan makanan non paket seperti yang terpampang di daftar menu.
Klik untuk memperbesar gambar.
Klik untuk memperbesar gambar.
Rasanya tak ingin beranjak dari Taman Bambu, suasana asri ditemani beraneka menu sarapan dan jajanan jadi penyebabnya. Andaikan bisa lebih pagi sampai ke sini, akan lebih leluasa menikmati sejuknya pagi.

Rabu, 17 April 2019

Belajar Memotret Pelari dan Atributnya

Usai gelaran Mandiri Jogja Marathon 2018 yang mengecewakan pelari (bukan yang suka selfie-selfie), aku penasaran dengan hasil jepretanku. Mayoritas hasilnya kurang memenuhi standar kelayakan 😂. Kuakui, tim kami kurang persiapan dan gelaran ini adalah pertama kalinya menonton lomba lari. Meskipun begitu, beberapa orang dari kami memenangkan lomba foto Twitter dan Instagram dari beberapa penyelenggara. Kebetulan aku menjadi salah satu pemenang meskipun bukan pemenang bernomor 😀.
Yats Colony noise.
Seorang teman menginformasikan akan ada acara bersama RunhoodMag pada 28-29 April 2018 di Yats Colony. Setelah mendaftar dan mendapat konfirmasi, aku datang menuju tempat acara. Clingak-clinguk, kok aku saja yang datang atas nama narablog 😂, heran juga sih kenapa pada tidak tertarik? Tukang potret murni juga sepertinya tidak ada. Yang datang malah banyak pelari, yang notabene lebih fokus lari daripada "cuci mata" (ngapain juga lari sambil bawa kamera?). Satu orang kukenal yang datang belakangan yaitu Jarwadi; narablog kawakan yang sekarang asyik masyuk dengan pelarian 😄.
Belajar motret lari.
Ternyata ribet juga persiapan untuk memotret. Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya hehhehe. Ilmu yang ditularkan RunhoodMag kali ini lebih ndridis dan lebih ke profesional, bukan memotret lari karena ikut lomba Instagram 🙊. Hari pertama di kelas hanya menyampaikan teori, kemudian peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, yang akan melakukan praktek di hari terakhir.

Menyiapkan tim
Langkah-langkah untuk mendapatkan hasil maksmimal kurang lebih seperti memuat tim yang terdiri dari photografer, producer, editor, dan transporter. Kalau di bahasa kami mah tukang potret, pembuat, penyunting, dan alat pengangkut.

Selanjutnya isi callsheet, kayak lembaran rencana kegiatan gitu supaya kegiatan pemotretan tercatat dan lebih terarah. Kurang isinya siapa saja anggota tim, alat yang digunakan, tema pemotretan, dan lain sebagainya. Lebih lengkapnya kutulis di bawah ini.


Itinerary pemotretan.

Detail of production

Tulis tema pemotretan di sini,apakah untuk komersial sponsor, keunikan tempat, atau seperti tema yang ditawaran waktu latihan yaitu Landscape Jogja Thru Running.

Teams

Masukkan semua anggota tim dan jabatannya (tukang potret, pembuat, penyunting, sopir)

Gears

Tulis semua peralatan yang dibawa beserta jumlahnya. Setelah pemotretan selesai, periksa kelengkapan peralatan. Jangan-jangan ada yang hilang..

Venue

Tulis tempat pemotretan, misalkan di bawah pohon Beringin dekat rumah calon mertua.

Call Time

Lebih menitikberatkan pada janjian anggota tim mau ketemu pukul berapa, dimana. Bisa juga ikut dimasukkan, dimana tempat parkir kendaraan atau turun dimana jika naik transportasi umum (daripada nanti nanya-nanya di grup 😄). Ada yang ketinggalan, kelak akan mulai pemotretan pukul berapa.

Moodboard

Aku tidak paham dengan ini karena tim kami tidak mengisinya hahahhahah.. Mungkin diisi ilustrasi cerita tema pemotretan yang sedang berlangsung.

List

Daftar tim yang membawa dan mengoperasikan perangkat. Tulis juga jumlah perangkat, kondisi, dan statusnya, apakah kondisi bagus 100% atau tombol agak mejen. Status perangkat milik siapa, pribadi, perusahaan dan komunitas, atau sewa.

---o0o---

Sebelum Hari H siapkan peralatan dan survei tempat pemotretan, sesuaikan dengan tema yang akan diambil. Semoga catatan ini dapat membantuku memotret ala-ala rungrapher yang tekniknya berbeda dengan idolgrapher.

Senin, 15 April 2019

Menilik Kisaran Harga Yamaha Nmax Terbaru Maret 2019

Kemunculan skutik Nmax dari produsen Yamaha memang bisa dikatakan cukup sukses di dunia otomotif. Kabarnya jenis motor skutik tersebut mampu mendongkrak penjualan dari kendaraan model matic Yamaha. Meskipun secara harga memang kendaraan berbody bongsor tersebut terbilang cukup mahal, tetapi hal itu tidak membuat masyarakat Indonesia enggan untuk memiliki. Bahkan sampai dengan saat ini kabarnya akan ada versi nmax terbaru 2019 yang digadang-gadang akan menjadi kendaraan yang paling dinantikan. Dari awal kemunculannya Nmax memang selalu memberikan kejutan yang mampu membuat para pengguna kendaraan jatuh cinta.
Yamaha Nmax.

Dari Yamaha sendiri sampai dengan saat ini Nmax bisa dikatakan sebagai tulang punggung penjualan motor seri matic. Apalagi harga yang ditawarkan cukup menarik sekali, selain itu desain yang sangat berbeda dari seri metic sebelumnya memang menjadi daya tarik sendiri. Ciri khas bongsor yang digunakan mampu memberikan kesan berbeda pada sebuah motor. Tidak heran jika Nmax banyak digandrungi oleh berbagai segmen, mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa yang berada pada kelas atas.

Karena melihat permintaan pasar yang terus meningkat pada sebuah kendaraan Nmax, Yamaha terus mengatur strategi untuk meningkatkan profit. Salah satunya dengan menaikkan harga setiap tahunnya, hal itu terlihat pula pada bulan Maret tahun ini yang naik dari harga sebelumnya yaitu:
  1. Seri Yamaha Nmax 155 standar bulan Maret 2019 dijual dengan harga Rp.27.540.000. Harga tersebut naik dari sebelumnya pada bulan februari yang bisa didapatkan hanya dengan harga Rp.26. 900.000.
  2. Lalu untuk seri kedua ada Nmax 155 ABS yang lebih mahal yaitu Rp.31.150.000 yang naik dari harga bulan Februari yang masih berada pada angka Rp.30.650.000.
Selain isu kemunculan Nmax terbaru tahun ini, ternyata kenaikan harga tersebut juga menjadi salah satu bentuk informasi yang cukup mencengangkan. Dimana pada awal tahun lalu tepatnya bulan Januari dan Februari untuk harga dari skutik tersebut masih tergolong stabil. Tetapi kenaikan secara signifikan baru terlihat ketika pada bulan Maret 2019. Nah, bagi Anda yang ingin memiliki kendaraan skutik dari Yamaha tersebut harus segera membeli agar tidak terjadi kenaikan harga yang lebih tinggi lagi. Karena meskipun harga tergolong mahal, tetapi permintaan dipasaran juga tidak mengalami penurunan.

Pada dasarnya Yamaha memang salah satu produsen kendaraan yang cukup aktif mengeluarkan berbagai produk otomotif. Setelah memunculkan Nmax, ada beberapa seri skutik bongsor yang ditawarkan dengan harga yang lebih rendah. Tetapi bagi Anda yang tidak ingin kelamaan mendapatkan Nmax terbaru dengan harga tinggi bisa memilih cara kredit. Apalagi saat ini sistem kredit bisa melalui online, seperti pada Moladin yang memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan berbagai jenis kendaraan dengan mudah dan cepat serta angsuran ringan.

Sabtu, 06 April 2019

Nyetrit Bareng di Sepenggal Kali Code

Sudah lama tidak jalan dan main bersama banyak orang rasanya kangen juga. Sabtu 16 Maret 2019 lalu aku ikut Komunitas Nyetrit Bareng Jogja "turun" ke tepi Kali Code, memotret "apa yang menarik" untuk dipotret 😀. Titik kumpul sudah ditentukan di depan Malioboro Mall. Dari tempat tersebut kami berjalan berjalan ke selatan, melewati Kepatihan menuju seberang Hotel Melia Purosani. Kendaraan sengaja kuparkir di Taman Parkir Abu Bakar Ali, yang beberapa waktu lalu sudah pernah kutulis.

Bulan Maret biasanya sudah mulai memasuki musim panas, tapi khusus di tahun 2019 Maret di Jogja masih hujan. Malam hari sebelum hari H, hujan mengguyur cukup lama yang menyebabkan suhu udara cukup dingin. Jam nyetrit bareng pun molor, beberapa orang merasa hari masih pagi. Mau bagaimana lagi lha wong saat di rumah melihat matahari masih berselimut. Hampir semua berpikiran sama, "Ah masih pagi.." 😂

Di bawah jembatan Jalan Jagalan.
Saat akan memasuki kampung Code, Pak Presiden Nyetrit Bareng memberi pengarahan, mempersilakan peserta memotret bertema kolor (color) ini, sebisa mungkin tidak mengganggu aktivitas warga. Peserta nyetrit kali ini lumayan banyak, sekitar 25 orang. Dan, baru terasa hari beranjak siang setelah selimut matahari hilang dari langit 😔.
Klik untuk memperbesar.
Perjalanan kami di tepi Kali Code kira-kira digambarkan oleh garis merah. Berlanjut ke utara menuju Jembatan Kewek, yang insya Allah akan ditulis selepas ini. Kami berjalan kaki beriringan, memang kurang ideal untuk mendapatkan street photography. Tapi aku menikmatinya karena baru pertama kalinya berjalan di sepanjang sisi barat Kali Code.
Kolor street photography.
Agak susah menemukan obyek warna-warni di kawasan ini, kami juga tidak mau mengatur (setting) tempat atau membawa properti agar ada obyek warna-warni yang dipotret. Baru turun dari jembatan, aku menemukan obyek kolor yang (menurutku) cukup menarik, sayang warnanya kurang nge-jreng jadi kurang meninggalkan kesan mendalam.
Salah satu rumah susun Code.
Obyek paling berwarna yang kutemui hanya rumah susun Code. Hasil pemotretan akan bagus jika kebetulan ada adegan atau kegiatan di depan rumah susun. Beberapa teman mendapatkan momen tersebut, tapi aku lebih suka obyek polos sehingga foto-fotoku tidak bercerita 😁.
Hidran pemadam kebakaran.
Keluar dari kampung Code di mulut gang Sutedjo, pertigaan Jalan Mataram - Jalan Mas Suharto, aku menemukan hidran pemadam kebakaran. Menarik dipotret? Tidak, tapi daripada tidak ada yang dipotret lagi? 😄

Kami tidak terus menerus berjalan kok, lebih banyak duduknya dan jajan 😀. Sengaja tidak dipotret untuk menjaga harga diri #halah. Di sela jajan panganan kami menikmati udara pagi, kicauan burung, dan gonggongan anjing penghuni rumah susun.
Lumayan banjir akibat semalam hujan merata.
Sedikit cerita saat menunggu teman-teman jajan, baru asyik memotret jembatan aku diajak ngobrol seorang warga. Dia yang mengaku menjaga kebersihan rumah susun bercerita tentang penambang pasir di Kali Code, menurutnya dalam sehari bisa mendapatkan 8 karung pasir. Karung-karung itu diangkat ke atas dan dibawa gerobak ke pembeli. Pria berambut tipis berwarna putih itu tidak tahu pasti berapa harga pasir kali, tapi dia mengklaim pasir kali di situ adalah yang terbaik (di sekitarnya).

Sepenggal Kali Code sudah kulalui, masih ada sepenggal lagi di utara jalan yang akan kuceritakan. Tunggu ya..