Senin, 14 Januari 2019

Wisata Halal Dimulai dari Diri Sendiri

Awal tahun lalu slogan wisata halal masih gencar disuarakan sebagai promo wisata. Lambat laun slogan itu menghilang sedikit demi sedikit, demikianlah bila niat awal terpaku pada kepentingan ekonomi. Sepertinya titik berat program ini masih seputar berpakaian lebih sopan dan kuliner yang memberi jaminan makanan tidak mengandung zat haram kepada pelancong. Sedangkan unsur lain masih sedikit mendapat sentuhan "halal".

Aku masih bingung juga, siapa yang punya wewenang memberi label "wisata halal" ini; oleh negara, lembaga independen, lembaga ulama, atau dilabeli sendiri? Berbeda dengan kuliner yang telah jelas pembeli label halal dan haram.
Traveling halal.

Bersyukur masih ada yang peduli dengan halal dan haram, orang awam sepertiku bisa lebih tenang menikmati wisata terutama kulinernya. Lambat laun aku merasa tidak bisa sepenuhnya menggantungkan diri pada label "halal" tempat wisata, di dalam dan luar negara. Sampai awal 2019 aku malah belum menemukan tempat wisata berlabel lahal (semoga segera ketemu), lebih sering ke restoran halal dan makanan berlabel halal dari LPPOM MUI. Sebagai muslim wajib tahu mana halal dan haram, sehingga tahu saat berada di tempat baru, "Ini boleh dilakukan, ini tidak boleh dilakukan." Jangan malas menggunakan otak dan hati untuk mempelajari agama, segelintir nikmat yang dianugerahkan Allahu Ta'ala kepada manusia.

Rujukan pedoman hidup muslim hanya dua, al-Qur'an dan sunnah Rasulullah yang shahih. Ada satu lagi yaitu pendapat jumhur ulama bila menemui kasus kontenporer dengan rujukan Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.

Yang wajib direnungkan ketika akan berwisata adalah
  • Tidak untuk menyekutukan Allah.
  • Tidak berwisata ke tempat kemaksiyatan.
  • Tidak bertujuan hal yang dilarang agama.
  • Menjalankan shalat wajib, bila dalam keadaan safar bisa mengqashar.
  • Melaksanakan shalat di tempat yang diperbolehkan Islam.
  • Menutup aurat, laki-laki maupun perempuan.
  • Bila wisata ke luar kota, perempuan ditemani mahram.
  • Usahakan tidak ikhtilat, meskipun sekarang sangat berat dilakukan.
  • Makan dan minum dengan kuliner halal, baik sembelihan, komposisi bahan, dan alat pengolahan.
  • Waspada dengan jebakan penyakit TBC.
Masih ingat hadist masuk surga atau neraka karena seekor Lalat? Di bawah ini kuambil terjemahannya dari Rumaysho.

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, "Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat." Mereka (para sahabat) bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, "Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu kecuali dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah." Ia pun menjawab, "Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan." Mereka mengatakan, "Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat." Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, "Berkorbanlah." Ia menjawab, "Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla." Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga."

Semoga aku selalu ingat beberapa poin tersebut dan bisa melaksanakannya. Jebakan betmen seperti dalam hadits di atas, sekarang dikemas dengan lebih cantik dan tidak berupa lalat.

Sengaja tidak memberi penjelasan rinci pada poin-poin itu, karena akan sangat panjang. Insya Allah (akan diusahakan) tautan artikel penjelasan tiap poin tersebut.


Wallahua'lam

Baca juga:
- Parkir di Taman Abu Bakar Ali
- Bagaimana Mie Instan Rasa Tom Yum Udang dari Thailand?
Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. Wah, iya juga ya. Baru ngeh loh ternyata halal tuh nggak cuma makanan di tempat wisata aja. Sepertinya di luar negeri sih pemerintahnya ikut turun tangan nggak asal klaim wisata halal aja. Bagus nih tulisannya untuk pengingat diri sendiri jg saat berwisata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooo begitu ya, aku belum pernah ke luar negeri :)

      Alhamdulillah bila tulisan ini bisa bermanfaat, bukan hanya bagi penulisnya saja.

      Hapus