Sabtu, 20 April 2019

Menyantap Sarapan ditemani Sejuknya Pagi di Joglo Pari Sewu

Nama Joglo Pari Sewu baru kudengar pekan lalu, setelah teman-teman Blogger Jogja membicarakannya. Rupanya tempat ini adalah restoran di tepi Kali (sungai) Kuning yang terletak di daerah Bromonilan, Purwomartani Kalasan, Kabupaten Sleman DI Yogyakarta. Aku jadi penasaran setelah tahu berada di tepi sungai, karena itulah aku bela-belain ke Joglo Pari Sewu hari Selasa, 9 April 2019 lalu.
Restoran Joglo Pari Sewu.
Lokasinya masuk dalam Desa Wisata Bromonilan, sekitar 16 kilometer dari Kilometer Nol Yogyakarta. Memang cukup jauh, namanya juga desa. Kalau di kota adanya Kampung Wisata. Cukup buka peta Google, Restoran Joglo Pari Sewu akan ditemukan di sana. Sebagai pengendara yang taat peraturan, sepanjang jalan menuju lokasi aku tidak membuka peta Google, akibatnya menempuh jalan lebih jauh dari petunjuk Google 😂.
Klik untuk memperbesar gambar.
Selain terletak di tepi sungai, apa yang menarik dari restoran ini? Lihat spanduk yang membentang di parkiran; All u can eat* hanya dengan Rp25.000 akhir pekan dan Rp20.000 di hari biasa, tanpa tambahan biaya apapun (di beberapa brosur biasa ditulis ++). Siapa yang nggak tertarik coba? Kalau programnya sudah tidak ada, spanduk (harusnya) tidak lagi nangkring di situ.
Spanduk wisata pagi all you can eat.
Dari sekian banyak spot wisata di desa wisata ini, aku hanya sempat melihat sebagian saja. Lebih suka duduk menikmati keadaan sekitar dalam beberapa saat, baru pindah ke tempat lain setelah rasa terpuaskan 😀.
Kemana saja boleh.
Memasuki joglo restoran pukul 09.00 WIB, eh ternyata sarapan saat itu ditempatkan di bawah (tepi sungai). Akupun menuruni tangga menuju ledok, sudah ada beberapa orang disana menunggu sarapan. Terlihat dari anak tangga, ada 2 meja dan tikar untuk lesehan. Termasuk juga ada 2 toilet dengan konsep alam (maksudnya berlantai bebatuan gitu).
Di bawah pohon Bambu kala itu.
Sambil menunggu teman lain datang, kuluangkan waktu jalan berkeliling. Tempat tersebut rupanya bernama Taman Bambu, yang berdampingan dengan kolam terapi ikan, tempat main air, dan rumah pudding. Fotonya dirangkum menjadi slide di bawah ini.
Setelah teman-teman sudah kumpul dan sajian siap, kami langsung mengerubungi pramusaji 😀. Apa aja sih kuliner yang disajikan Joglo Pari Sewu? Ada 2 amben sebagai tempat menggelar kuliner, amben jualan yang sudah jarang ditemukan di kota. Aku jadi ingat masa kecil, para penjual bubur dan terik menggunakannya untuk menggelar jajanan. Gambar amben jualan ada di slide kok.

1 amben untuk jajanan dan minuman. Amben lain untuk makanan berat. Di antara keduanya dipisahkan oleh wajan penggorengan di atas kompor untuk menggoreng aneka jajanan seperti balok, pisang, tempe, dan bakwan jagung. Bakwan jagungnya juara lho..
Contoh voucher jajanan.
Lho kok ada voucher jajanan, gunanya buat apa? Kayaknya begini, program all u can eat berakhir saat aku datang kemarin, gantinya adalah program tukar uang dengan kupon. Kuponnya bisa digunakan untuk beli jajanan. Lebih jelasnya lihat Instagram @jogloparisewu.

Sebelum sarapan yang kedua (dari rumah sudah sarapan 😂), pemanasan dulu dong alias ngemil 😁. Aku ke amben jajanan dan memesan jamu beras kencur, padahal aku tahu jamu ini mengenyangkan (iyalah... kan dibuat dari tepung beras). Jamu sudah dibuat dan dimasukkan ke dalam botol, pramusaji tinggal mengocok lalu menuangkannya ke dalam gelas. Selain beras kencur ada kunir asem, teh, wedang uwuh, dan air putih.
Monggo dipun dahar.

Selanjutnya makan jenang gempol karena bubur kacang ijo hampir tiap hari makan 😀. Aku harus merelakan tidak makan bubur telo ungu agar perut tidak serta merta penuh 😆. Jajanan pasar yang tersedia adalah gatot, lupis. dan tiwul lengkap dengan juruh dan kelapa parut. Belum lagi apem, resoles, lemper. Duh... nyebut apa lagi saking banyaknya pilihan 😋.

Aku menuruni tanah untuk lebih dekat dengan sungai, sambil ngemil gorengan 😌. Kemudian duduk di tepi kolam terapi ikan. Untuk melakukan terapi ini, harus membeli tiket karena tidak termasuk dalam paket sarapan. Aku dan teman-teman hanya duduk tanpa berani memasukkan kaki ke kolam, ikannya terlihat ganas hahahha.
Mandi di sungai.
Pakaian renang sudah kubawa dari rumah, tapi melihat tempatnya aku jadi sedikit keder 😂. Kalau sendirian berenang di tempat ini ogah ah hahahah, padahal kelihatannya asyik ya, berenang. Selain renang, tempat ini juga biasa digunakan untuk bebek-bebekan (floating boat) yang dikenakan biaya terpisah.
Mau renang? Baca ini dulu.
Tibalah waktunya untuk sarapan kedua. Pilihan menu yang tersedia benar-benar bikin pusing kepala, banyak banget! Aku bersyukur saat itu tidak tergoda untuk icip-icip semua menu 😁. Menu yang kupilih pun kuungkapkan dengan percaya diri, pecel! Padahal waktu itu ada nasi goreng, sayur lodeh, gudeg, krecek, dan oseng terong. Lauknya ada telur ayam pindang, telur ceplok pedes, mi goreng, oseng teri, sate telur puyuh, dan usus. Oh iya, ada jengkol juga!
Nasi pecel.
Sayuran pecel cukup lengkap disajikan di atas piring seng. Ini pecel ala Jogja, bukan Jawa Timuran yang penyajiannya diikuti oleh rempeyek. Mungkin pilihan lauknya yang salah hahahaha, maklum lagi kepengen sate telur puyuh 😃.

Selain paket sarapan, pengunjung juga bisa memesan makanan non paket seperti yang terpampang di daftar menu.
Klik untuk memperbesar gambar.
Klik untuk memperbesar gambar.
Rasanya tak ingin beranjak dari Taman Bambu, suasana asri ditemani beraneka menu sarapan dan jajanan jadi penyebabnya. Andaikan bisa lebih pagi sampai ke sini, akan lebih leluasa menikmati sejuknya pagi.

Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. Tempate adem, banyak pohon sama pinggir kali.. Sayang banget aku kemaren belum sempet nyemplung ke kali.. kayana seru juga kapan-kapan nyobain renang kaya yang di foto..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penake nak arep nyemplung kali ki isuk2, ora panas. Bar kungkum njuk sarapan.. jos tenan :)

      Hapus