Sabtu, 08 Juni 2019

Kembali Makan Ayam Goreng Bu Tini Sultan Agung Jogja

Aku agak kesulitan saat mengantar tamu makan di Jogja, apalagi si tamu punya selera tinggi terhadap masakan Jawa, ndridis, dan kolot 😀. Diarahkan ke rumah makan yang belum pernah mereka coba, mereka tidak mau spekulasi. Mereka malah terlihat tidak menerima sesuatu yang baru dan terlanjur menikmati zona nyaman.

Daripada ribet, aku menawarkan makan di Rumah Makan Ayam Goreng Bu Tini di Jalan Sultan Agung 17 Yogyakarta. Tanpa pikir panjang mereka mau kesana 😂, padahal saat liburan biasanya penuh sesak, terkadang stok ayam goreng telah habis. Selain di Jalan Sultan Agung, ayam goreng legendaris ini membuka cabang di selatan kota Jogja.
Buku panduan.
Kami tidak memesan ingkung, karena tidak semua rombongan menyukai semua tubuh ayam 😁. Menu yang dipesan adalah setengah ayam goreng plus kepala, malah porsi kepalanya lebih dari 2. Semua pesanan sudah termasuk lalapan berupa ketimun, selada, tomat, dan kubis. Sehingga tidak perlu memesan lagi kecuali dirasa kurang.
Menu makanan.
Penjual menjamin ayam yang digoreng adalah halal, meskipun waktu aku ke sana tidak terlihat label sertifikat halal LPPOM MUI DIY di daftar menu. Ayamnya jelas ayam kampung, bukan ayam jago dan broiler (pedaging). Untuk minumnya, aku pesan tape panas 😊 karena harganya sama dengan es teh dan lemon tea panas, wkwkwk.
Mau pesan minum apa?
Kebetulan waktu kesana 2018 lalu, baru saja ditinggal rombongan besar kementerian, sehingga banyak kursi lowong. Lumayan lah, dapat tempat duduk di tempat strategis (sirkulasi lancar dan terkena kipas angin 😋), tapi setelah kami memesan makanan tak lama berselang beberapa rombongan keluarga datang untuk makan siang. Sepertinya rumah makan ini tak pernah sepi pembeli.
Tempat duduk idaman.
Andaikan tidak dapat tempat duduk utama, masih ada tempat yang kurang strategis (pemandangan, sirkulasi, jauh dari toilet) dan lesehan. Sebagai rumah makan jujugan keluarga dan tamu instansi, fasilitasnya pun cukup lengkap dengan adanya wastafel dan tempat shalat. Yang belum ada mungkin hanya pendingin ruangan.
Lesehan juga bisa.
Setelah menghabiskan separuh gelas minuman, hidangan pun datang dan siap disantap. Serbuuuuuu. Seingatku, nasi tidak disajikan dalam cething tapi sudah ditakar di atas piring. Etapi sambalnya tidak ikut terfoto, maaf 😀. Sambal ayam goreng Bu Tini adalah sambal tomat khas berwarna merah tua dengan rasa manis pedas.
Ayam goreng yang ditunggu datang juga.
Selain menu di atas, juga tersedia menu paket nasi box. Pembeli tidak perlu bingung memilih menu seperti menu makan di tempat, meskipun harganya lebih mahal beberapa ribu rupiah, hehehe.
Paket nasi box.
Makan selesai, kami membayarnya dengan uang tunai. Di sebelah kasir juga tersedia aneka macam jajanan pasar. Bagiku sudah tidak perlu jajan lagi, karena sudah kenyang makan ayam 😂.
Meja pesan dan kasir.
Aku merasa ayamnya khas dan tetap enak, tapi tamuku berseberangan pendapat denganku 😄. Yo wislah, yang penting tamu tidak banyak komplain dan kenyang. Ayam goreng Bu Tini tidak dipresto, jangan sekali-lagi makan tulangnya karena tetap keras seperti tulang 😁.
Previous Post
Next Post

0 Comments: