Juli 2019 - metuomah.com

Selasa, 23 Juli 2019

0

Menginap di Hotel Wisnugraha Jogja

Setelah menghadiri resepsi dan pelesiran di Pantai Depok, aku menginap di Hotel Wisnugraha Jalan Kusumanegara 114, Muja Muju, Kecamatan Umbulharjo, Kota Jogja, DI Yogyakarta. Kerabat sudah memesan beberapa kamar jauh-jauh hari lewat aplikasi X. Ketika kutanya kenapa memilih hotel ini? Jawabannya karena dapat potongan harga sehingga harganya cukup murah. Kelebihan hotel ini berada di pusat pemerintahan, sekitar 200 meter dari balaikota.


Kerap melintas Jalan Kusumanegara, halaman depan hotel ini terlihat sering dipenuhi bus pariwisata terutama saat liburan. Saat menginap semalam di sini, tidak banyak tamu bermalam sehingga suasana agak sepi, ideal bagi kami untuk beristirahat 😃.
Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, tidak berdasarkan pesanan maupun berbayar.
Hotel Wisnugraha.
Bangunan Hotel Wisnugraha berbentuk U terdiri 2 lantai, semua kamar langsung menghadap ke halaman belakang yang sekaligus digunakan untuk parkir tamu. Terlihat bangunan ini sudah berdiri lama, arsitekturnya sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan hotel yang dibangun tahun 2018an.
Halaman belakang hotel.
3 kamar kami tempati berdampingan plus ekstra bed, luasnya kira-kira 3x6 meter. Di dalamnya tersedia televisi tabung 14 inch yang diletakkan di atas lemari dan bufet cermin. Ketika kami masuk sudah tersedia air mineral botolan.
Kamar lantai dasar.
Kamar mandinya berukuran 2 x 4 meter, hanya tersedia 1 sabun mandi batangan dan shampo. Wastafel juga diletakkan di dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi agak sedikit susah dikunci, kadang malah tidak bisa dikunci sama sekali. Untung kami sama-sama tahu siapa yang masuk ke dalam kamar mandi 😅.
Kakus kamar mandi.
Tempat shalat berada di lantai 2 dekat tangga, tanpa pendingin udara. Ketika itu hujan turun dari sore hingga pagi harinya, cuaca jadi semakin dingin. Tapi kami tidak begitu merasakan karena tertidur pulas saking capeknya 😀.
Nasi kuning.
Sekitar pukul 06.00 WIB, sarapan pagi diantar pegawai hotel ke setiap kamar. Nasi kuning dengan baluran telur dadar, abon, dan kentang goreng dihiasi lalapan ketimun dan tomat siap disantap. Segelas teh hangat menemani sarapan pagi para tamu hotel. Menu ini diletakkan di meja balkon kamar, bila tamu hotel masih menutup diri di dalam kamar. Adanya balkon membuat kami tidak selalu berada di kamar gegoleran, ehe.
Lobby hotel Wisnugraha.
Pukul 09.00 WIB kami sudah meninggalkan hotel untuk menuju beberapa tempat wisata di Jogja. Keuntungan lain hotel ini adalah dekat dengan supermarket Pamella 1, Indomaret, dan halte bus Trans Jogja.

Lokasi Hotel Wisnugraha: https://goo.gl/maps/NLMusJRhjGKLjNaK9

Selasa, 16 Juli 2019

2

Menelusuri Pedestrian Code Gumreget

Setelah istirahat 5 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Parkir Abu Bakar Ali; destinasi terakhir sebelum berpisah. Acara terakhir adalah bedah foto di Gudang Kopi, sebagian peserta nyetrit bareng pamit tidak mengikutinya.


Dari bawah jembatan Jambu inilah kami melewati Pedestrian Code Gumreget (PCG) yang diresmikan pada 8 Januari 2017 lalu. Panjangnya baru 200 meter yang rencananya diperpanjang sampai jembatan Kewek, sekitar 300 meter. Secara administratif, PCG berada di Kampung Gemblakan Bawah Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta.

Gapura dari arah selatan.
Jalan inspeksi pedestrian dibangun dari batu alam, lampu-lampu hias dipasang di pinggir pembatas sungai. Bola-bola plastik digantungkan sebagai pemanis, ditemani beberapa spot untuk foto seperti kebanyakan tempat wisata Indonesia di tahun 2017-2018.
Beberapa spot foto PCG.
Sejenak kami berhenti untuk memotret, yang.... kayaknya lebih bagus motret di sore hari sih 😗. Cuaca sedikit mendung dan matahari sudah meninggi, kurang ideal untuk memotret di tempat terbuka. Akupun berpikir keras, angle yang lumayan bagus mengambil gambar dari mana? Tantangan kan, karena lebar pedestrian hanya 3 meter.
PCG yang cukup bersih.
Dari berita yang kubaca, pedestrian ini tidak boleh dilewati kendaraan bermotor karena juga digunakan untuk ruang publik. Memang sekitar tempat ini jadi terlihat cukup asri dan enak dipandang. Berjalan di pedestrian ini juga terasa nyaman.
Pj Walikota Yogyakarta yang meresmikan PCG.
Semoga proyek ini segera diteruskan ke utara, kami memang merasakan perbedaan setelah 200 meter PCG berakhir (Nyetrit Bareng di bulan Maret 2019, tapi tulisan baru tayang Juli 2019 😂). Bila PCG antar jembatan (Jambu - Kewek) terealisasi, niscaya para wisatawan akan antusias menikmati susur pedestrian ini.
Klik untuk memperbesar.
Beginilah perkiraan rute kedua yang kami lewati, cukup menyenangkan disela cuaca yang kadang terik kadang mendung. Perjalanan di jalan setapak dimulai turun ke Ledok, menyusuri pedestrian kemudian naik ke jalan raya, sehingga total jarak yang peserta Nyetrit Bareng kurang lebih 600 meter. Lumayan membuat badan berkeringat.

Senin, 08 Juli 2019

2

Spesial Sambal Bawang Pak Bro Jalan Kaliurang

Para pencari warung penyetan malam hari di sekitaran Jalan kaliurang km 7-8, pasti tidak asing dengan Spesial Sambal Bawang Pak Bro. Warung tenda ini buka dari sore hingga habis, tepatnya di utara Panties Pizza. Pernah datang ke sini pukul 20.30 WIB, terong dan tempe sudah habis 😔.

Spesial sambal Pak Bro.
Meskipun nama warungnya Pak Bro, tapi yang jual bukan bapak-bapak atau simbah-simbah ya. Setahuku sekarang hanya digawangi suami istri, semoga saja benar, karena jarang memperhatikan hehe.

Pertama kali ke sini sekitar tiga tahun lalu sangat ramai, bahkan kami harus bayar parkir (njelehi). Karena merasa dirugikan, (maklum so bath kiss mean) kami tidak menginjakkan kaki ke sini 😀 . Baru di tahun 2017 setelah pulang dari melihat Gemerlap Lampu Festival of Lights, aku dan teman mampir makan di sini. Alhamdulillah tidak bayar parkir lagi 😂.

Apa sih keunikan Spesial Sambal Bawang Pak Bro, sehingga aku sering makan di sini?
  • Sambal bawang dengan cabai hijau. Rasanya khas, setelah pagi hari tingkat kepedasan sambalnya berkurang.
  • Daun singkong seperti di rumah makan Padang.
  • Tempat kobokan dari seng.
  • Nasi ambil sendiri.
Tempe goreng.
Sekarang warung ini menawarkan menu paket, sehingga harga ikut terkatrol naik 😂. Menu andalanku hanyalah paket tempe terong goreng, kalau bosen ganti menu paket tahu terong goreng 😂. Seporsi paket tersebut berisi tempe goreng 5 iris, sambal bawang, daun singkong, serta lalapan kubis dan ketimun. Aku merogoh kocek Rp8.500 untuk mendapatkan paket tersebut.
Paket terong tempe goreng.
Pesan menu non paket? Bisa dong, malah mungkin bisa lebih murah jika ada pengurangan item. Setahuku Pak Bro tidak menyediakan menu penyetan. Selain tahu tempe dan terong, masih ada lele, ayam, rempela ati, dan telur ayam. Untuk ikan nila, bandeng, dan lainnya aku kurang tahu karena belum pernah memesannya 😀

Lokasi: https://goo.gl/maps/ivX4yoZF6BvVC8bV6

Rabu, 03 Juli 2019

2

Pecel Tumpang di Barat, Ada yang Suka?

Tahukah pembaca dengan makanan bernama tumpang? Agar tidak ambigu, ada tambahan kata di depannya, yang populer adalah sambel tumpang. Bahan utama menu tumpang adalah tempe bosok (busuk), diolah bersama aneka bumbu dapur jadilah menu menu berkuah ini. Setahuku menu ini ada di daerah Jawa Tengah bagian selatan seperti Solo raya hingga Jawa Timur.
Lupa, motretnya sudah di dalam mobil.
Ketika aku menemani teman ke Maospati, dengan mengambil rute Solo - Sragen - Ngawi - Maospati, kami mampir makan di Depot Makan Dewi Sri di Barat, Kabupaten Magetan Jawa Timur. Pukul 10.00 WIB sampai di rumah makan yang terletak di dekat Pasar Barat ini, kami adalah pengunjung pertama yang datang 😁. Entah dengan pertimbangan apa memilih tempat ini, kalau aku sih lebih suka sate (tapi kayaknya harganya lebih mahal 😂).
Baru buka sudah ada yang berkunjung.
Karena baru saja buka, belum banyak menu yang tersedia. Bingung kan mau makan apa? 😀 Mau makan ayam, kok bosan (dari Ramadhan hingga selesai lebaran makan ayam melulu). Mau pesan menu lain, kok belum ada hehehe, maklum baru saja buka... Akhirnya aku pesan menu pecel tumpang berpadu dengan minum es lidah buaya.
Pecel tumpang, krupuk harga terpisah.
Kami juga memesan tempe dan tahu tapi sengaja tidak ditampilkan di artikel ini 😃. Oke, lalu bagaimana rasa pecel tumpang? Sebelas dua belas dengan sambel tumpang, tidak ada bedanya. Pecel tumpang hanyalah kumpulan sayuran yang biasa dipakai untuk bahan utama pecel, sedangkan bumbu (sambel) pecelnya diganti dengan kuah tumpang. Dari penampilan sangat mirip dengan pecel original, setelah dicicipi barulah terasa perbedaannya. Ohiya, yang kumakan ini tidak pedas 😆.
Sebagian menu.
Harga di Depot Makan Dewi Sri cukup murah dan terjangkau, tempat makan cukup nyaman dan kondusif untuk makan bersama keluarga. Kenapa temanku mengajak makan ke sini? Karena 6 bulan sebelumnya mengadakan reuni di tempat ini 😑. Jika sebelumnya reuni dengan teman sekolah, kali ini reuni dengan makanannya.
Gazebo di depot makan.
Selain gazebo, lesehan, juga ada tempat makan menggunakan kursi. Tempat ini juga menyediakan "rumah" yang bisa disewa untuk reuni dan acara lain. Kusebut "rumah" karena tidak seluas aula sekolah maupun gedung serbaguna desa.


Letak depot makan ini masuk jalan kecil, tidak terlalu terlihat dari jalan utama. Satu lagi, jangan bandingkan depot ini dengan kota besar seperti Jogja atau Solo, atau di tempat makan di jalan nasional yang selalu ramai dikunjungi orang bepergian. Karena yang kutulis ini berada di kecamatan yang lumayan jauh dari kota besar.