Jumat, 09 Agustus 2019

Menunggu Pagi di Stasiun Tawang

Kereta Api (KA) Joglosemarkerto tiba di pemberhentian terakhir Stasiun Tawang Semarang, Jawa Tengah pukul 23.44 WIB. Para penumpang turun dengan santai, tidak diburu waktu. Malam itu Joglosemarkerto membawa sedikit penumpang. Di luar peron, sudah menunggu keluarga yang menjemput dan para penjaja jasa transportasi. Aku memilih tidak keluar peron dahulu karena kebelet pipis 😂.


Toilet stasiun tergolong luas, tapi hanya 3 yang berpintu. Sedihnya pas masuk toilet airnya sakipret, kemungkinan air baru naik ke tandon. Alhamdulillah hajat masih bisa terpenuhi meskipun air bersihnya makcrit 😊. Selepas buang hajat, airnya kembali lancar hahaha kayaknya beneran airnya baru naik ke tandon 😊.
Peron Stasiun Tawang.
Kuputuskan menunggu pagi di peron Stasiun Tawang karena tidak ada sanak keluarga menjemput. Memang, jarak stasiun dengan tempat tujuan masih puluhan kilometer keluar kota. Bila menginap di hotel pun kupikir kurang efektif karena esok pagi melanjutkan perjalanan naik kereta ke kota tujuan akhir.
Pintu masuk toilet.
Cuaca Semarang lebih panas daripada Jogja, ditambah dengan ganasnya nyamuk Pantura. Aku sudah menggunakan lotion anti nyamuk hingga 2 kali, tetap saja nyamuk tidak takut menyerang 😢. Solusi lain mengurangi serangan nyamuk adalah mendekat pada kipas angin, dengan resiko badan masuk angin terkena angin buatan terus-menerus.
Stasiun Tawang Semarang saat tengah malam.
Aku tidak sendiri, 2 orang yang duduk di depanku juga menunggu kereta pagi yang sama denganku. Selain itu, kereta rute Jakarta, Surabaya, dan Malang berhenti di Stasiun Tawang hampir tiap 5 menit sekali, membuat suasana selalu ramai, saat mau berangkat maupun turun dari kereta. Hal itu berlangsung hingga kurang lebih pukul 03.30 WIB, setelah itu (seingatku) tidak ada lagi kereta datang dan pergi hingga pukul 05.50 WIB.
Pintu keluar peron.
Semalaman aku hanya bisa tidur sekitar 10 menit 😁, akibat nyamuk dan suasana yang kurang mendukung. Lain kali sepertinya harus bawa bantal leher supaya bisa tidur lebih lama. Saran juga bagi yang transit kereta seperti aku, pertimbangkan deh mau menunggu di luar atau di dalam peron, terutama masalah buang air. Di dalam peron ada tempat shalat yang lumayan memadai, sedangkan di tempat parkir berdiri masjid yang bisa digunakan untuk shalat jum'at. Perlu diingat, larangan "melantai" di area stasiun, sehingga jika berniat untuk istirahat mau-tidak-mau bisa memanfaatkan fasilitas yang ada.
Previous Post
Next Post

0 Comments: