Februari 2020 - metuomah.com

Sabtu, 29 Februari 2020

0

Murah, Tegal Ekspres jadi Primadona jurusan Tegal Jakarta

Setelah kenyang makan bakso, kami ingin beli Tahu Aci untuk buah tangan. Namun waktu tinggal 30 menit, terlalu mepet... bisa ketinggalan kereta. Kalau aku pergi sendiri mungkin bisa, tapi karena buntutnya panjang 😄 (terutama koper) mending cari aman saja.
Stasiun Tegal.
Kami balik lagi ke Stasiun Tegal pukul 14.10 WiB, sedangkan keberangkatan KA Tegal Ekspres jurusan Tegal - Pasarsenen pukul 14.30 WiB. Cuaca panas sekali, baju sampai basah oleh keringat. Jawa Tengah bagian utara sudah mulai masuk musim penghujan, khusus hari itu langit berawan tidak menandakan akan hujan.


Beneran kaget ketika melihat antrian checkin mengular puluhan meter. Aku mengurungkan niat untuk cetak tiket (sebagai kenangan pernah naik kereta dari Tegal 😀), kulihat sepintas ketersediaan mesin cetak tiket di dekat pintu peron terbatas, jadi aku checkin lewat aplikasi saja. Kuperhatikan awalnya hanya 1 pemeriksaan tiket yang buka. Setelah calon penumpang mengular, petugas memotret kepadatan penumpang, kemudian dibukalah 1 lagi pemeriksaan tiket.
KA Tegal Ekspres jurusan Pasarsenen menunggu diberangkatkan.
Menurutku, waktu buka pemeriksaan tiket terlalu mepet (mungkin 30 atau 20 menit sebelum keberangkatan kereta). Calon penumpang sudah menumpuk dan agak sedikit panik, mereka banyak yang membawa keluarga dan tas besar (termasuk kami). Untuk mencari kereta dan kursi paling tidak butuh 5 menit. KA Tegal Ekspres sendiri membawa 8 kereta ekonomi kursi 3-2 dan 1 kereta makan plus pembangkit. Antrianku juga diserobot orang dengan ekspresi tidak bersalah, stigma buruk langsung mengemuka kembali. Hmmm rupanya begitu... baiklah.
Mana tempat dudukku?
Setelah masuk peron, kami bergegas mencari tempat duduk yang tertera di aplikasi. Suasana hiruk pikuk khas kelas ekonomi terlihat dalam kereta. Ada yang berbahasa Sunda, Jakarta, dan bahasa Tegal, semua campur jadi satu dalam kereta bertempat duduk sempit ini.
Jarak kaki dan kursi KA Tegal Ekspres.
Aku merasa dalam kesempitan, beruntung depanku anak kecil yang suka mainan gawai sehingga sesama lutut tidak saling berciuman. Tidak seluruh tempat duduk terisi dari Stasiun Tegal, kursi terisi penuh setelah kereta berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan. Di stasiun ini KA Tegal Ekspres berhenti 14 menit untuk mengisi air toilet. Penumpang bisa santai keluar kereta untuk meluruskan kaki dan beli cemilan di kios stasiun.
Sambungan rak atas dan kebocoran air AC.
Wajar jika angkutan yang menyediakan 848 tempat duduk, menjadi primadona rute Tegal - Pasarsenen PP. Hanya dengan Rp.49.000 sudah sampai Jakarta meskipun harus duduk tegak selama 5 jam, air buangan AC pun kadang menetes membasahi penumpang 😓. Mau protes kok kayaknya wagu,, sudah murah minta kenyamanan... tahu diri dong (ngomong pada diri sendiri) 😁.


Kami turun di Jatibarang, harga tiket menyesuaikan hanya Rp.45.000 dengan lama perjalanan Tegal - Jatibarang 2 jam 13 menit. Tidak kapok naik kereta ini, asalkan cermat memilih nomor kursi dan tidak duduk terus selama 5 jam 😂.

KA Tegal Ekspres
- berhenti di hampir semua stasiun ekonomi
- keberangkatan dari Pasarsenen pukul 07.40 WiB
- keberangkatan dari Tegal pukul 14.30 WIB
- harga tiket antara 45.000 - 49.000 rupiah.

Kamis, 20 Februari 2020

0

Antara Stasiun Tegal dan Alun-alun, Ada Bakso Rudal Asli Solo

Meskipun menggunakan kereta Eksekutif, perjalanan 5 jam 20 menit tetap membuat badan pegal. Setelah turun dari kereta pukul 12.20 WiB, kami istirahat hingga 20 menit ditemani panasnya udara Tegal. Stasiun Tegal yang jadi pemberhentian kami cukup kecil, kurang nyaman untuk menunggu keberangkatan atau sekejap melepas lelah usai berkereta. Jarak peron dengan rel terlalu dekat, suara lokomotif dan asap dari knalpotnya sangat mengganggu.


Setelah shalat Dzuhur, kami keluar stasiun untuk makan siang. Jam menunjukkan 13.20 WiB, masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum naik kereta Tegal ekspres. Berbekal peta Google, kami jalan kaki ke arah alun-alun Kota Tegal sambil lirik kanan kiri, kali aja ada warung makan yang menggugah selera.

Sepanjang jalan kuperhatikan lingkungan kurang bersih. Sampah banyak berserakan, beberapa kios kaki lima dan gerobak berbaris tidak rapi, sehingga menimbulkan persepsi kumuh. Pemandangan sampah terlihat sejak memasuki Stasiun Slawi, terus ke utara hingga Stasiun Tegal. Merujuk peta Google, kawasan depan Stasiun Tegal adalah alun-alun timur. Seharusnya tempat ini bisa menjadi area publik yang nyaman, tapi kenyataannya......
Warung Bakso Rudal Asli Solo dari seberang jalan.
Keinginan makan makanan khas Tegal amblas, tidak ada warung yang menarik hati di jalan yang kutempuh. Malah melihat bakso bernama Rudal di beberapa tempat yang konon katanya bukan asli Tegal, tapi dari Solo. Betewe, sepertinya Rudal ini bukan nama orang ding 😊. Lalu bakso Rudal mana yang kupilih sebagai tempat makan siang? Kembali ke peta Google...., aku memilih Pondok Bakso Rudal Asli Solo, karena reviewnya paling banyak.

Aku menduga Rudal bukan nama orang maupun jenama, melainkan jenis bakso. Tapi kenapa Rudal tertulis paling besar? Hmmm, aku tidak bisa menjawab. Jika ada yang tahu mengapa Rudal tulisannya besar, mohon tulis di kolom komentar ya...

Kami memesan bakso standar original komplit tanpa tambahan. Di Jogja, warung bakso jarang menyuguhkan "makanan tambahan" lontong atau kupat. Di pondok ini pengunjung bisa mengambil sendiri lontong, terutama bagi yang memesan bakso tanpa mie.
Sudah lewat jam makan siang.
Setelah bakso tersaji di meja terungkaplah makna "Rudal" 😊. Kata tersebut dianggap mewakili bakso terbesar di mangkok, padahal bentuknya seperti sobekan bola tennis, bukan seperti peluru kendali. Bakso tersebut diiris membentuk bunga mekar, di tengahnya terlihat mix olahan daging sapi, tepung tapioka, dan cacahan tetelan yang tidak terlalu lembut. Di samping 1 bakso "rudal" itu terselip 3 bakso ukuran standar yang tidak menggunakan campuran cacahan tetelan.
Bakso rudal dan kecap Ikan Hitam.
Mie dalam seporsi bakso tidak banyak sih, tapi jangan dikira tidak mengenyangkan. Rasakan baksonya yang ndaging banget, komposisi daging lebih banyak daripada tepung. Bakalan kenyang deh makan daging baksonya. Kuah yang belum dimix dengan kecap dan cabai, terasa mantap dan tidak amis. Untuk orang sepertiku yang lagi traveling, kecap produksi Tegal ini jadi pembeda rasa dengan bakso di kota lain.

Sembari makan, ada bapak-bapak yang nggenjreng gitar menyanyikan berbagai lagu. Dia duduk menghadap ke dalam warung, sesekali dia menghentikan nyanyiannya untuk beristirahat sambil menanti pengunjung memasukkan uang ke kotak yang tersedia.


Tempatnya di sini: https://goo.gl/maps/EJDPE2FS71Mg4EhZA

Senin, 10 Februari 2020

1

Ke Tegal bersama Kereta Eksekutif Joglosemarkerto

Masa libur akhir tahun selain jalanan ramai, tiket transportasi umum juga mengalami kenaikan. Pergi keluar kota pun jadi malas, mending rebahan atau naik kendaraan pribadi jika terpaksa. Akhir tahun 2019 aku "terpaksa" liburan, pertimbangannya karena keluarga lagi ngumpul dan ya memang liburan... sebelum bertemu tahun 2020 yang kuperkirakan akan susah plesiran lagi.

Tujuanku adalah Jatibarang dengan favorit transportasi adalah kereta. Jauh-jauh hari sudah cek harga tiket, dari Senin-Ahad harga kereta Jogja-Jatibarang sungguh kelewatan 😁... tidak ada yang murah. Akhirnya coba-coba mencari tiket medot, alias transit dan lanjut dengan kereta lain. Ketemu juga, ada kereta yang jadwal dan harganya bersahabat. Dia adalah KA Joglosemarkerto, kereta yang mengelilingi rel Jawa Tengah - DIY. Dan yang masih tersisa kala itu adalah kelas eksekutif, karena yang ekonomi sudah terjual habis.

Keinginan awal ingin melalui rute Jogja - Purwokerto lanjut Purwokerto - Jatibarang. Aku masih belum paham dengan tarif khusus, maka aku tidak memeriksanya, apalagi hampir semua kursi kereta terisi penuh. Dan setahuku tidak ada tarif khusus Purwokerto - Jatibarang, yang ada hanya Purwokerto - Cirebon, itupun jalan malam hari.

Pilihan Jogja - Jatibarang tidak begitu banyak, yang berangkat pagi hanya 3 kereta yaitu Fajar Utama YK, Mataram, dan Jaka Tingkir.
Dari Stasiun Tugu Yogyakarta (YK)
  • Fajar Utama Yk
  • Mataram
  • Jayakarta
  • Bima
Dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta (LPN)
  • Jaka Tingkir
  • Singasari
  • Gaya Baru Malam Selatan

KA Joglosemarkerto Yogyakarta - Tegal

Harga tiket KA Joglosemarkerto tidak mengalami kenaikan saat liburan, sehingga jadi favorit untuk bepergian jarak menengah. Untuk kelas eksekutif Yogyakarta - Tegal (TG) dikenakan Rp.150.000 (Februari 2020 Rp.140.000), sedangkan kelas ekonomi Rp.80.000.

Kami (kali ini tidak pergi sendiri 😁) memilih berangkat dari Stasiun Lempuyangan, alasannya sederhana yaitu biaya penitipan motor per hari murah 😃. Rencana liburan selama sepekan, 1 motor hanya akan dikenakan biaya Rp. 21.000. Dihitung-hitung lebih murah daripada naik taksi rumah - stasiun.
Kursi eksekutif Joglosemarkerto.
Kereta datang di stasiun lebih cepat dari jadwal, jadi agak santai untuk masuk kereta. Setelah duduk, kuperhatikan kereta penumpang eksekutif yang digunakan adalah kereta lama, terlihat dari pemasangan jendela dan cat yang kurang rapi. Demikian juga dengan sandaran tangan dan kaki-kaki kursi.
Televisi iklan promo PT KAI.
Tempat duduk tunggal, jika dapat posisi paling depan terasa kurang nyaman bagi pemilik kaki panjang. Kaki akan kepentok dengan dinding lemari kereta. Televisi hanya ada 1 di depan dan 1 di belakang, seperti biasanya hanya berisi iklan yang diulang-ulang sampai bosen. Jika video di flashdisk sudah mentok diputar semua, petugas akan datang membawa remote agar video kembali jalan.
foot rest.
Jarak antara kaki dengan kursi depan cukup lega, penduduk (orang yang duduk) di dekat jendela bisa langsung keluar tanpa mengganggu penduduk sebelahnya (misal ingin ke toilet) 😀. Mungkin yang kurang menyenangkan dari kereta eksekutif Joglosemarkerto adalah toilet duduk. Tempatnya sempit untuk masuk dan keluar (kepentok kakus). Pintu toilet bukan lipat geser, tapi seperti pintu toilet di darat.

Joglosemarkerto berhenti 9 menit di Stasiun Purwokerto untuk mengisi air toilet dan pergantian kru. Perjalananku ini, lokomotif menarik 3 kereta eksekutif, 1 kereta makan, 5 kereta ekonomi, dan 1 kereta ekonomi premium yang dirangkai paling belakang. Biasanya tidak ada kereta ekonomi premium, mungkin menggantikan 1 kereta ekonomi yang lelah 😄.


Perjalanan Jogja - Tegal memakan waktu lama karena hampir semua stasiun kecil disinggahi, meskipun membawa kereta eksekutif. Karena alasan itulah KA Joglosemarkerto hampir selalu penuh, menjadi andalan transportasi masyarakat yang dilalui kereta ini.

Selasa, 04 Februari 2020

0

Belajar Membatik Sederhana di Batik Adiningrat

Batik Adiningrat yang beralamat di Jalan Malioboro mengundang beberapa narablog Jogja untuk factory visit dan membatik. Kami bersepuluh sudah tiba di pusat Batik Adiningrat pukul 08.00 WIB, bahkan beberapa di antaranya sudah nyanggong sebelum toko buka 😀. Kami sempat melihat persiapan karyawan sebelum buka toko, mengingatkanku pada upacara bendera saat masih sekolah, meskipun sama sekali berbeda 😄.
Batik Adiningrat 2017.
Kami diterima dengan hangat oleh Mbak Dewi, manajer toko Batik Adiningrat. Sambil menunggu mobil yang akan mengantarkan kami ke tempat pembuatan batik, kami diajak berkeliling toko 3 lantai ini. Adiningrat memiliki produk batik tulis yang jadi andalan yaitu batik Jahe Selawe.

Di situ aku baru tahu kalau proses pembuatan Batik Adiningrat jadi satu dengan Batik Pertiwi di dekat Terminal Giwangan, Kota Jogja. Kedua batik ini memang masih punya hubungan darah 😊. Sekitar pukul 09.00 WIB kami meluncur ke Batik Pertiwi dengan 2 mobil. Perlu waktu 30 menitan sampai di tujuan, tempat yang asri dengan pepohonan, halamannya cukup luas untuk bermain bulu tangkis 😃. Sebelum ke pendopo tempat workshop, kami makan jajanan dan melihat-lihat showroom Batik Pertiwi.

Di pendopo; mungkin bisa dikatakan teras rumah yang luas, terlihat ibu-ibu sedang membatik. Mereka terlihat tangkas memainkan cantingnya, nyaris tanpa kesalahan malam (lilin batik) tumpah ke kain.... sudah ahli.
Membatik.
Usai melihat sebentar, kami diminta menempatkan diri, paling tidak harus dekat dengan kompor malam batik. Tiap orang mendapatkan kain putih selebar sapu tangan, pemindangan atau ram, dan canting baru. Kain tersebut sudah digambari pola dengan pensil, kami tinggal membatik saja.
Paket belajar membatik.
Tidak mudah seperti yang kubayangkan 😂. Malam; bahan untuk membatik harus selalu panas, ketika mengambilnya dengan canting tidak perlu penuh. Setelah diambil, harus segera dilukiskan di atas kain. Bila makin dingin tidak bagus untuk membatik, hasilnya ngemblok. Harus mengambil yang masih panas di wajan yang dipanasi kompor.

Cara pegang cantingku sepertinya salah, kaku, terlalu tegak, dan lama memainkan canting sehingga malam terlanjur dingin. Hasil membatikku pun paling jelek di antara kawan lain 😄. Kuakui, membatik perlu keahlian, tidak heran jika harga batik tulis relatif mahal.
Dicap untuk mempermanis tampilan.
Apapun hasilnya, serahkan kepada guru 😃. Setelah dirasa cukup, kami menuju tempat pengecapan. Kain yang sekiranya masih polos dari malam batik, dicap dengan beberapa model. Sapu tangan saya dicap gambar kupu-kupu, teman lain ada yang dicap garis pagar, dan beberapa model cap lain.

Lanjut dengan mencuci atau merendam sebentar (kalau tidak keliru 😝). Ohiya, coretan batik yang salah bisa dihapus lho, tapi aku lupa caranya 😂. Hal tersebut bisa dilakukan sebelum pewarnaan.
Pewarnaan.
Intinya sih, kami cuma belajar praktek melukis batik dan memperhatikan proses membatik keseluruhan. Tidak semua bisa kami lakukan karena butuh belajar lebih lama (mungkin sampai puluhan hari 😃), waktu yang kami miliki juga sangat terbatas.
Dijemur setelah pewarnaan.
Setelah dijemur, kami tidak menunggu sampai kering (bisa sampai esok hari tuh..) tapi ngadem di showroom, sambil ngobrol ringan dengan pemilik Batik Adiningrat, sebelum akhirnya balik ke Jalan Malioboro.

Aku tanya pada Mbak Dewi, workshop membatik bagi wisatawan bisa dilakukan di toko? Ternyata memang ada 2 paket membatik, ada yang ekspress cukup di toko saja. Yang kedua, seperti yang kami lakukan. Ketika kutanya harga, tahun 2017 lalu kisaran Rp25.000 untuk workshop di toko Batik Adiningrat.

Tahun ini 2020, toko mengalami sedikit perubahan dengan adanya kedai kopi di lantai dua.