Antara Stasiun Tegal dan Alun-alun, Ada Bakso Rudal Asli Solo - metuomah.com

Kamis, 20 Februari 2020

Antara Stasiun Tegal dan Alun-alun, Ada Bakso Rudal Asli Solo

Meskipun menggunakan kereta Eksekutif, perjalanan 5 jam 20 menit tetap membuat badan pegal. Setelah turun dari kereta pukul 12.20 WiB, kami istirahat hingga 20 menit ditemani panasnya udara Tegal. Stasiun Tegal yang jadi pemberhentian kami cukup kecil, kurang nyaman untuk menunggu keberangkatan atau sekejap melepas lelah usai berkereta. Jarak peron dengan rel terlalu dekat, suara lokomotif dan asap dari knalpotnya sangat mengganggu.


Setelah shalat Dzuhur, kami keluar stasiun untuk makan siang. Jam menunjukkan 13.20 WiB, masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum naik kereta Tegal ekspres. Berbekal peta Google, kami jalan kaki ke arah alun-alun Kota Tegal sambil lirik kanan kiri, kali aja ada warung makan yang menggugah selera.

Sepanjang jalan kuperhatikan lingkungan kurang bersih. Sampah banyak berserakan, beberapa kios kaki lima dan gerobak berbaris tidak rapi, sehingga menimbulkan persepsi kumuh. Pemandangan sampah terlihat sejak memasuki Stasiun Slawi, terus ke utara hingga Stasiun Tegal. Merujuk peta Google, kawasan depan Stasiun Tegal adalah alun-alun timur. Seharusnya tempat ini bisa menjadi area publik yang nyaman, tapi kenyataannya......
Warung Bakso Rudal Asli Solo dari seberang jalan.
Keinginan makan makanan khas Tegal amblas, tidak ada warung yang menarik hati di jalan yang kutempuh. Malah melihat bakso bernama Rudal di beberapa tempat yang konon katanya bukan asli Tegal, tapi dari Solo. Betewe, sepertinya Rudal ini bukan nama orang ding 😊. Lalu bakso Rudal mana yang kupilih sebagai tempat makan siang? Kembali ke peta Google...., aku memilih Pondok Bakso Rudal Asli Solo, karena reviewnya paling banyak.

Aku menduga Rudal bukan nama orang maupun jenama, melainkan jenis bakso. Tapi kenapa Rudal tertulis paling besar? Hmmm, aku tidak bisa menjawab. Jika ada yang tahu mengapa Rudal tulisannya besar, mohon tulis di kolom komentar ya...

Kami memesan bakso standar original komplit tanpa tambahan. Di Jogja, warung bakso jarang menyuguhkan "makanan tambahan" lontong atau kupat. Di pondok ini pengunjung bisa mengambil sendiri lontong, terutama bagi yang memesan bakso tanpa mie.
Sudah lewat jam makan siang.
Setelah bakso tersaji di meja terungkaplah makna "Rudal" 😊. Kata tersebut dianggap mewakili bakso terbesar di mangkok, padahal bentuknya seperti sobekan bola tennis, bukan seperti peluru kendali. Bakso tersebut diiris membentuk bunga mekar, di tengahnya terlihat mix olahan daging sapi, tepung tapioka, dan cacahan tetelan yang tidak terlalu lembut. Di samping 1 bakso "rudal" itu terselip 3 bakso ukuran standar yang tidak menggunakan campuran cacahan tetelan.
Bakso rudal dan kecap Ikan Hitam.
Mie dalam seporsi bakso tidak banyak sih, tapi jangan dikira tidak mengenyangkan. Rasakan baksonya yang ndaging banget, komposisi daging lebih banyak daripada tepung. Bakalan kenyang deh makan daging baksonya. Kuah yang belum dimix dengan kecap dan cabai, terasa mantap dan tidak amis. Untuk orang sepertiku yang lagi traveling, kecap produksi Tegal ini jadi pembeda rasa dengan bakso di kota lain.

Sembari makan, ada bapak-bapak yang nggenjreng gitar menyanyikan berbagai lagu. Dia duduk menghadap ke dalam warung, sesekali dia menghentikan nyanyiannya untuk beristirahat sambil menanti pengunjung memasukkan uang ke kotak yang tersedia.


Tempatnya di sini: https://goo.gl/maps/EJDPE2FS71Mg4EhZA

Share with your friends