Jumat, 20 Maret 2020

Melihat Kota setelah Tanggap Darurat Bencana Covid-19 di DIY

Covid-19 ditetapkan WHO sebagai pandemi, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan status Tanggap Darurat Bencana Covid-19 mulai 20 Maret - 29 Mei 2020. Hampir seluruh dunia "kedatangan" virus mematikan yang pertama kali dilaporkan otoritas Wuhan China ini, meskipun belum se-mematikan Flu Spanyol seabad lalu. Pemerintah pusat tidak menyambil kebijakan lockdown, hanya menghimbau supaya warga membatasi aktivitas di luar rumah.
Gambar status tanggap bencana milik HumasJogja.
Sekitar tempat tinggalku sepi, warga sudah paham untuk jarang melakukan aktivitas di luar. Hanya sedikit yang ngeyel, katanya tidak takut dengan corona tapi kulihat dia takut dengan penyakit yang sekarang dideritanya. Ada juga yang ngeyel "sing penting yakin", ingin rasanya menendangnya tapi nanti malah digebuk massa.

Kondisi Jalanan utama kota Jogja di pagi hari cukup ramai, tapi tidak seramai sebelum diliburkan. Sedangkan jalan kecamatan dan kampung sudah cukup sepi. Semua baru terlihat lengang menjelang Maghrib. Beberapa kampung benar-benar sunyi, suara jangkrik pun tidak ada.

Toko kelontong di kampung masih banyak yang buka, pembelinya yang tidak ada. Sedangkan supermarket, minimarket, dan pusat perbelanjaan memperpendek jam operasional serta membatasi jumlah pengunjung. Beberapa di antaranya mengedepankan penjualan daring melalui aplikasi pesan dan lainnya, barang pesanan akan diantar kemudian.

Rumah Makan

Kami para kaum malas malak merasa kehilangan dengan banyaknya rumah dan warung makan yang tutup. Tutupnya mereka bisa dimaklumi karena omset penjualan menurun drastis sejalan dengan anjuran pemerintah untuk tidak berkerumun. Dengan diliburkannya sekolah dan perguruan tinggi, otomatis semakin memukul sektor kuliner. Usaha kuliner di Jogja sangat tergantung dengan pelajar dan mahasiswa, tanpa mereka usaha ini tidak berkembang.

Pariwisata

Ditutupkan tempat wisata juga mempengaruhi kehidupan dan penghidupan. Hotel dengan banyak kamar paling puyeng dengan tingkat hunian rata-rata 0,5%. Termasuk bioskop yang menyewa tempat, biaya operasional besar tapi harus tutup untuk menghindari wabah.

Penutup

Hampir semua sektor terpukul dengan serangan Covid-19, semoga bencana ini cepat berlalu dari muka bumi. Kita harus selalu mohon ampun kepada Yang MahaEsa atas kedzoliman kita di muka bumi, dan terus berdoa agar selalu kuat dan sabar dengan cobaan berat ini.
Previous Post
Next Post

0 Comments: